Total Tayangan Halaman

Rabu, 13 Juli 2011

Sajak Pengakuan

Kutulis sajak ini di saat aku tak mampu berkata-kata akan kotoran kecap yang mengotori baju putihku.
Walah, bukan hanya kecap saja!
Ada juga yang lainnya seperti saus sambal.
Kecap dan saus sambal warnanya hitam dan merah. Aku tak punya baju lain selain baju putihku sendiri. Aku menyesal, sungguh menyesal, hanya karena noda makanan saja, aku bisa mengubah warna baju putihku menjadi merah dan hitam.
       Merah
            Hitam
                Merah
                     Hitam
                          Merah
                               Hitam   Hitam
                                      Merah
                                Hitam
                           Merah
                    Hitam
dan Merah! Ah, warna nodanya sungguh tidak menarik. Noda bukanlah warna sablon untuk kaos kesayanganku ini.
Makanan memang sumber energi tubuh. Tetapi energi itu penuh noda.
Nodanya menggelinjang ketika hendak disantap dan bergejolak mengitari perutku. Atau ketika noda itu dengan sengaja kutempelkan pada baju putihku! Aku bahkan tidak sadar!
        Hei, kau tukang masak!
                Sudah kubilang.....
                      Jangan ditambahkan Kecap! ataupun sambal!
                                      Mereka hanya akan mengotori baju putih kesayanganku ini....


Depok, 15 April 2011

Siapa Yang Lebih Berkontribusi? (Sajak Ruangan)

"Saudara-saudara, nanti tugas tentang Penyelamatan Lingkungan dikumpulkan lewat forum diskusi kelas di situs resmi kampus ya, jangan lupa, paling lambat 2 minggu setelah pengumuman ini!"
Dinamika kelas yang hidup dengan mahasiswa yang aktif. Kritis, cerdas, dan sangat membanggakan.
Materi perkuliahannya seputar penyelamatan lingkungan, dan penanaman paradigma akan cinta lingkungan hidup.
Dinamika mereka dibungkus oleh ruang kelas yang dingin oleh pendingin ruangan.
Tugas mereka pun diantarkan oleh jaringan maya yang membutuhkan tenaga listrik yang cukup besar.
Paradigma mereka pun masih seperti manusia lain, belum sadar akan perbuatan meskipun kritis pemikirannya.
Mereka mengerjakan tugas-tugas di saat malam hari dengan memaksa personal computernya beroperasi hingga larut malam.
Dan mereka pun lepas dari kampus....
Mereka bekerja pada lembaga yang besar dengan gedung yang megah.
Gedung-gedung kerja dilengkapi dengan pendingin ruangan yang membungkus seluruh ruangan kerja.
Tajuk?


"Mbak, tolong siapkan perahunya, nanti bapak yang jalan saja."
Seorang tua yang miskin dan tak mengenyam pendidikan tentang cinta lingkungan hendak berangkat ke sungai besar.
Tujuannya untuk mengambil sampah-sampah plastik.
Sampah-sampah itu diambil dan dikumpulkan untuk dijadikan bahan baku pembuatan tas belanja.
Bukan hanya itu, sampah-sampah itu diproses ulang untuk dijadikan tudung saji, corong botol, dan benda-benda plastik sedrhana lainnya.
Anaknya juga ikut untuk mengambil enceng gondok di sepanjang bantaran sungai.
Enceng gondok ini juga dijadikan serat-serat untuk membuat kerajinan tas.
Kedua pasang tangan yang cekatan untuk bekerja.
Aksi?

Seandainya Bumi adalah seorang Ibu, dia akan merangkul seorang tua ini dan anaknya.
Ketika itu, intelektual telah dikalahkan oleh kearifan lokal....


Depok, 14 Mei 2011

Nada Bambu

Bambu di Jawa Barat dirangkai...
Irama sawah dan sendu yang keluar ...
Bambu di Jawa Tengah dirangkai ...
Irama angin semilir dan ngestilaras yang keluar ...
Bambu di Jawa Timur dirangkai ...
Irama distorsi dan nada perulangan yang keluar ...
Bambu di Bali dirangkai ...
Irama cepat dan tergesa-gesa yang keluar ...
Bambu di Sumatera Utara dirangkai ...
Irama berjingkat yang keluar ...
Bambu di Sumatera Barat dirangkai ...
Irama angin dan pegunungan yang keluar ...
Bambu di Lombok dirangkai ...
Irama panas dan pasir yang ditiup angin pun keluar ...
Bambu di Toraja dirangkai ...
Irama mistis yang membekukan jiwa pun keluar ...
Bambu pun identitas
Bambu pun dinamika
Bambu pun berperasaan ...
Bambunya satu, tangannya banyak ...


Pameran Alat Musik Tradisional Seruling
Jakarta, 13 Juni 2011

Pada Suatu Malam

Ada satu malam yang sangat memilukan...
Pada sebuah gerbong kereta listrik kelas ekonomi ...
Saat itu Batara Yama bersemayam di dalamnya...
Di tengah-tengah pertukaran keringat para pekerja dan pegawai
Karena bersinggungan tak mendapatkan ruang yang cukup

Ada satu malam yang sangat menyedihkan ...
Pada sebuah gerbong kereta listrik kelas ekonomi ...
Saat itu Batara Yama bersemayam di dalamnya ...
Di tengah-tengah kegelapan gerbong ...
Karena jaringan penerangan yang rusak ...

Ada satu malam yang menggetarkan ...
Pada sebuah gerbong kereta listrik kelas ekonomi ...
Saat itu Batara Yama duduk di salah satu sudut gerbong ...
Di tengah penuh sesaknya penumpang ...
Dan ada satu lelaki tua yang naik dari salah satu stasiun
Para penumpang dengan wajah kecut memberikan ruang untuk lelaki ini
karena memang penuh sesak betul tempatnya...
anaknya yang kira-kira cukup kuat berdiri di tengah-tengah penuh sesaknya penumpang, selalu digotongnya ...
anaknya tampak terkulai, wah... inilah ayah yang penuh perjuangan...
yang mau menggotong seorang anak yang terus tertidur sejak awal dia naik kereta ini.
Dia mengharap satu tempat duduk untuknya,
karena ia menggendong anaknya yang tertidur dan terkulai dalam gendongan

Ada satu malam yang menakutkan
Pada sebuah gerbong kereta listrik kelas ekonomi
Satu orang merelakan tempat duduknya untuk lelaki tua itu
dan lelaki tua duduk dengan memangku anaknya yang sulung sambil menatapnya dengan tatapan pilu...
Tubuh anaknya terkulai lemas tak berdaya, dengan memakai pakaian biru muda yang polos
Dan beberapa orang pegawai terpaku menatap kedua insan ini...

Ada satu malam yang mengharukan
Pada sebuah gerbong kereta listrik kelas ekonomi
Adalah seorang pemuda yang kumal bentuknya, yang memberanikan diri untuk bertanya kepada lelaki tua ini
"Bapak, ini anaknya? sepanjang perjalanan selalu bapak pangku. Ada apa? dia sakit?"
Dan jawabnya kepada pemuda ini,
"Bukan lagi sakit, melainkan telah sempurna dalam hidupnya!"


Ada satu malam yang benar-benar menyentuh hati,
di tengah keacuhan kebanyakan para penumpang...
saat sang ayah turun dari kereta pada satu stasiun sebelum tujuan akhir...
Dan ia tetap menggendong anaknya yang lemah terkulai ...

Saat petanda jalan usai mengaum, lampu kereta menyala...
Gerbong itu tak lagi gelap...
Batara Yama telah pergi dari tempatnya dan kereta itu kembali berjalan...
Kereta ini bagaikan kereta surga yang mengubah kepiluan, menjadi terang dalam perjalanannya.


Penuh sesaknya kereta, paraunya suara orang menyambung hidup, dan gelapnya kereta telah kalah atas sebuah kemenangan dari sebuah perjuangan...
Perjuangan mengantarkan jiwa yang tenang di tengah keletihan para penumpang.


Jakarta, 16 Juni 2011
Puisi untuk Bapak Ruslan, pedagang tahu sumedang yang membawa jenasah anaknya dengan naik kereta karena tak mampu membayar jasa angkuta ambulans.

A-N-M.
KL-3 86113

Minggu, 02 Januari 2011

Oh, Parinem Ayu

Oh, Parinem Ayu
Ayu citra wajah desa
Ayu hati belumlah pasti
Ayu laku menyibak kaku
Ayu Rupa lupa biasa
Ayu putri seorang diri
Ayu waktu membawa haru

Oh, Parinem Ayu
Hanya ayu sesaat namun jalan maksiat


Yogyakarta, 2 Januari 2011
Setelah Membaca "Indonesian Human trafficking"

Sabtu, 01 Januari 2011

Tambal Ban

Tempat tinggalnya reot dan halaman depannya penuh dengan sampah plastik dan kardus. Dirinya begitu kumal dan berdaki seakan bertahun-tahun tidak mandi. Ember adalah sahabatnya. Tuas tambal ban adalah kakaknya. Gulungan ban untuk tambalan adalah kulitnya. Ia bekerja hanya sekedar melayani kebocoran. Orang akan banyak berpikir lebih baik mengganti ban daripada menambalkannya. Darsono namanya, tukang tambal ban asal wonogiri yang membuka praktek di Jagakarsa, Jakarta Selatan.
       Ia tak ingat lagi siapa keluarganya. Anaknya pergi. Istrinya dibunuh orang. Hanya rokok dan seperangkat radio tua yang menjadi teman curhatnya. Terkadang beberapa tukang ojek dan penjual jamu yang mengadu nasib di daerah jakarta selatan menjadi sahabatnya untuk mengobrol. Hasil kerjanya mungkin hanya cukup untuk menghidupi dirinya seorang. Rumah reot itu memiliki sejengkah halaman yang dipajang dengan tulisan, "Tambal Ban Motor". Sebenarnya ia juga menyediakan ban baru untuk mengganti, tetapi hanya musiman ketika tengkulak berani menjual murah kepadanya. Nafas dan jiwanya hanya untuk menambal karena sekelumit  tambalan ban berarti sebungkus nasi rames kesukaannya dengan teh manis dan rokok Djarum 76. Motor dengan ban bocor adalah sasarannya, tetapi teramat sangat jarang. Kalaupun ia menderita sakit, ia hanya bisa merebahkan badan atau meminta balsem dari tukang bensin di sebelahnya.
      Darsono namanya, tukang tambal ban yang berpenampilan tidak menarik. Dekil dan bau seperti orang yang terasing di antara orang mendekati keasingan lain. Tangan tuanya selalu berurat. Tangan kanan menjaga tuas bakar untuk menambal, tangan kirinya menjepit rokok kesayangannya. Tarif sekali tambal adalah 5 ribu rupiah, kalau sebulan saja bisa mendapat 650 ribu ia sudah sangat bersyukur karena 200 ribu saja untuk pemodalan minyak tanah, ban tambalan, dan lainnya.
         Pada suatu siang, motor Honda yang disebut "monthor lanang" mengalami kebocoran pada ban belakang. Pemiliknya adalah seorang pegawai kantoran, tentunya mencari tambal ban dengan tujuan mengganti ban bukan untuk menambal ban. Dengan perasaan terpaksa ia mampir ke gubuk milik darsono. Mengapa terpaksa? Ia hanya meyakini tempat reot seperti ini pasti memiliki kualitas ban yang sangat jinthiran, atau bahkan ia berpikiran bahwa darsono hanya akan menambal bannya bukan menggantinya. Pemilik monthor lanang  itu sempat kecewa karena Darsono tidak meyediakan ban dalam  motor tiger ukuran belakang. Sang Pemilik berpikiran bahwa ditambal mungkin untuk sementara. Ia akan ke bengkel resmi untuk menggenahkan nasib bannya supaya lebih pasti dan lebih panjang umur.
        "Pak, dekat sini ada bengkel resmi yang jual ban resmi? Ini saya tambal dulu aja lah, buat sementara"
         Darsono hanya menjawab, "yahh, depan situ sekitar 2 kilo lagi ada bengkel resmi, bapaknya mau ganti ban? jadi ditambal?"
         "hasyaaahh, pake tanya lagi..... udah tambal aja, tambal yang bagus, paling gak awet-awet banget khan? makanya ini untuk sementara nanti aku ganti yang baru! udah tambal aja buat alas langkah dua kilo ke depan!"
       Tanpa banyak bicara Darsono menambalnya dengan fokusnya. Tiap detail ban ia perhatikan dengan teliti. Ia bahkan membaca doa dalam menambal ban itu. selesailah pekerjaan menambal ban belakangnya.
       "Sudah pak, lima ribu harganya.", kata Darsono sambil tersenyum ramah dengan gigi kuning bekas rokok itu.
       " kamu punya kembalian? uangku 100 ribu?"
       " wah, enggak ada pak, ya sudah dibawa saja uangnya, lain kali saja!"
       "Lain kali? mau gak dibayar? ya nggak apa-apa kalo gitu aku yo malah nggak kelongan uang. Mau lain kali kapan? lain kali banku gak butuh tambalan lagi pak!"
         Darsono hanya menerima kalimat itu dengan sedikit trenyuh. Ia membalasnya dengan ramah dan mengatakan, "ya sudah, tidak apa-apa, hati-hati ya pak, di depan itu dua kilo lagi ada bengkel resmi."
         Dua kilo memang dekat untuk ukuran motor honda besar itu. Pemilik motor itu sampai pula di bengkel resmi. Bengkel resmi memang beda dengan gubuk Darsono. Bentuknya seperti pit stop sirkuit. Kasirnya ramah dan cantik dengan rok ketat di atas paha, padahal kampung asalnya juga Wonogiri. Mekaniknya sungguh terlatih karena mereka pernah bersekolah.
         Dengan nada yang sedikit lebih wangun, pemilik motor itu memohonkan mengganti ban. "begini nih, tadi ban saya bocor, saya tambalin deh, nah... khan saya takut bocor lagi, makanya saya minta ganti ban saja daripada ban saya berresiko!"
        "Silahkan bapak tunggu di ruang tunggu, setelah selesai, mekaniknya akan menghubungi bapak."
         Giliran motor honda besar bernama tiger itu dilepas ban belakangnya. Dibuka isi ban luar dan dikeluarkan ban dalamnya. Mekanik itu hanya heran dan mengernyitkan dahinya. Mekanik itu kemudian menghampiri pemilik motornya sambil mengatakan, "Pak, ini serius mau diganti? bannya masih sangat baru seperti ini, sepertinya ini baru jalan dua kilo."


Depok, 11 Oktober 2010
Sedikit berlatih untuk menulis Cerpen, mohon masukkan dan saran yah,
Silahkan menangkap arti dan inti cerita yang saya buat..
Norman Mahardhika Agustinus

Natal Untuk Rukmi

Sudah tiga bulan ia terbaring di rumah sakit. Tiga bulan lagi dokter memprediksi bahwa ia akan mati. Ia adalah anakku. Anakku, Maria Magdalena Rukmi. Umurnya sembilan tahun. Ia sakit pendarahan liver sejak tiga bulan yang lalu dan kubawa ke rumah sakit dengan masih menanggung hutang untuk rumah sakit. Tak mengapa, saat hari natal tiba, aku pasrah saja. Nasibnya ada di tangan Kristus.Tiga bulan lagi adalah hari Natal.

                                                                                      ***
   Setiap ia terbangun dari tidur, ia selalu mengigau tentang sekolahnya yang ditinggalkan sejak ia masuk rumah sakit. Terkadang ia bertanya kepadaku, "Ayah, aku ingin sekolah! apakah aku masih bisa sekolah? Aku ingin bermain dengan Cindy dan Putri!". Pertanyaan itu selalu diulangi dari waktu ke waktu. Dengan jawaban yang sama tanpa mengklarifikasi kebenaran jawaban, aku menjawab, "Ya, pasti anakku, pasti! Nanti kalau sudah sembuh, kamu pasti bisa masuk sekolah dan bermain lagi!". Setiap jam di samping tempat tidur anakku, aku menjaganya bersama istriku, Tanti. Tanti terus menerus melanjutkan Novena. Setiap pagi di gereja, ia selalu menengadah kepada Bunda Maria dan melanjutkan novena. Walaupun dokter mengatakan bahwa nyawa Rukmi akan berakhir beberapa hari sebelum hari natal, Tanti tetap berdoa. Tak mengapa, saat hari natal tiba, aku pasrah saja. Nasibnya ada di tangan Kristus. Lima bulan lagi adalah hari Natal.
   Perusahaan tempatku bekerja sedang mengalami ujian berat. Target keuntungan perusahaan gagal. Perusahaan sedang menanggung utang yang besar. Untuk meringankan beban perusahaan, perusahaan memecat beberapa karyawan. Aku adalah salah satunya. Aku hanya dibekali uang pesangon yang sangat tidak manusiawi. Melalui penuturan ini, aku tak akan menyebutkan nominalnya. Aku dipecat saat Rukmi dirawat selama sebulan. Sulit? Kata sulit memang yang sedang kualami. Sebulan telah lewat dan biaya perawatan rukmi beserta biaya operasi, infus, hemodialisa, dan obat-obatannya akan mendaftarkan diri untuk ditagihkan kepadaku. Aku hanya bisa memegang gambar wajah Yesus dan merenungi nasib sambil berdoa. Tak mengapa, saat hari natal tiba, aku pasrah saja. Nasibnya ada di tangan Kristus. Empat bulan lagi adalah hari Natal.
    Meski dokter telah mengatakan bahwa nyawa Rukmi tinggal empat bulan lagi, aku dan Tanti tidak tinggal diam. Untuk menebus utang-utang Rumah Sakit, aku mendaftarkan diri sebagai kasir di restoran waralaba di kawasan nongkrong anak muda, daerah Jakarta Selatan. Tanti membuka usaha membuat sarung untuk dipakaikan pada buku lagu gereja, Puji Syukur. Selain itu, Tanti juga menjual kriya karyanya seperti sulaman taplak meja, merajut rosario, dan menjadi suplier  barang-barang rohani. Tanti memang aktif di gereja, tetapi aku tidak. Ah, yang penting aku tetap mencintai Yesus. Aku bekerja dari pagi sampai sore dengan bayaran yang menurut aku cukup untuk menutupi utang-utang rumah sakit. Aku juga mendapat pinjaman dari adikku untuk biaya perawatan Rukmi. Dari hasil yang aku kumpulkan bersama Rukmi dan adikku, Hernowo, pasti cukup untuk merawat Rukmi. Asal rukmi tetap stabil pada kondisinya, pasti biayanya tidak lagi bertambah. Tetapi, dokter telah mengatakan bahwa nyawanya akan berakhir sebelum hari Natal. Tak Mengapa, ketika hari natal tiba, aku pasrah saja. Nasibnya ada di tangan Kristus. Ya! memang tiga bulan lagi ia akan meninggalkan dunia! uang yang aku kumpulkan saja baru hasil selama dua minggu terakhir di bulan ini.
     "Ayah, apakah Rukmi bisa bersekolah sekarang?" Rukmi tiba-tiba terbangun dari tidur sorenya. Aku kaget dan melihat dia nampak segar ketika bangun tidur. "Belum nak, sekarang saja masih sore."
"Kalau besok pagi, bagaimana yah?"
     "Besok Pagi? Nak, kamu belum sembuh total, biarkan saja kamu sembuh terlebih dahulu! sambil menunggu sembuh, kamu makan yah!" kusuapi dia dengan makanan rumah sakit yang telah terjamin nutrisinya.
"Tetapi, Rukmi sudah janji dengan bu Prudentia kalau Rukmi akan bernyanyi di natalan sekolah. Rukmi harus latihan bersama teman-teman."
      "Nak, kalau kamu belum sembuh, jangan paksakan dirimu dulu. yaudah, kalau begitu sekarang kita berdoa yuk, dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus, amin, Tuhan....."
Setiap hari ia tidak pernah kuberitahu bahwa ia akan meninggal. Tetapi dokter sangat sulit untuk diajak bertemu. Dia pergi ke Surabaya untuk menangguhkan tesisnya dan dia akan menjadi Dr.dr. Doktor, Dokter... nyawa anakku sudah kugantungkan melalui tangan dokter sebagai perantara Tuhan. Aku hanya meyakini, yang menyembuhkan ataupun yang menentukan adalah Tuhan, dokter hanyalah medium. Tak mengapa? Aku semakin takut! Dua bulan lagi nyawa anakku ini diprediksi akan berhenti bernaung di tubuhnya. Penghasilan sementaraku setiap pagi hingga sore seolah-olah tak berarti bagi anakku, begitu juga Tanti. Tetapi, Nasibnya ada di tangan Kristus. Aku pasrah saja. Dokter? siapakah kamu?

                                                                                        ***
Hari ini masuk minggu pertama adven. Dokter telah kembali dari penangguhan tesisnya. Ia meraba-raba anakku dan memeriksanya. Beberapa menit ia mengatakan kepada aku dan Tanti, "maaf Pak dan Bu, kami sudah mengusahakan yang terbaik, tetapi nyawa Rukmi memang tinggal tiga minggu lagi. Semoga Bapak dan Ibu tetap tabah menerima ini semua, nah untuk masalah pembayaran, silahkan Bapak dan Ibu mengurus di bagian ........."
   "Ya...ya..., saya paham, pasti akan saya bayar Dok."
               "Oke, pasrahkanlah kepada Tuhan. Selamat Malam"
  Kuakui pembicaraanku dengan dokter tidak membuat hati tenteram. Ia ternyata tetap bersikukuh dengan diagnosanya mengenai umur Rukmi. Belum lagi, ia menyuratkan pembayaran rumah sakit. Aduh, sabar ya! aku dan Tanti tidak serta merta memiliki uang yang banyak dalam waktu singkat.
   Kulihat anakku berkeringat di dahi. Batuk-batuk mulai santer terdengar. Tanti menangis di pundakku. Aku, hanya memandangi anakku. "Bu, ayo kita misa adven dulu, kita berdoa lagi ya!". Aku pasrahkan anakku untuk dijaga oleh adikku yang berbeda keyakinan denganku. Aku berdoa lagi dan memasang harapan pada Bunda Maria di gereja. Aku dan Tanti melanjutkan novena. Uang harus ada untuk perawatan anakku. Namun, nyawa anakku kupasrahkan kepada Kristus. Sebentar lagi, hari Natal akan tiba.
    Hari-hari kujalani seperti biasanya dengan kerja di restoran. Tanti tetap menjual di kios gereja. Tanti sedikit terhibur dengan banyaknya orang yang membeli sulaman kainnya dan replika pohon Natal. Dengan banyaknya pembeli, maka makin besar pula honornya. Belum lagi, Tanti mendapatkan uang hasil dari penggalangan dana gereja untuk membantu pengobatan Rukmi.
   Batuk-batuk dan keringat dingin mulai sering berlomba-lomba mengumandangkan diri dari tubuh anakku. Muntah Darah dan nafas yang tersengal-sengal sering diderita anakku. Aku mulai tak tega melihatnya. Sepertinya, diagnosa dokter benar. Yesus? Bunda Maria? Pengharapan? Sudah Pasrahkan saja, memang kalau benar demikian yang terjadi, aku sudah rela dengan keadaan yang demikian. Aku hanya bisa mengharap, suatu saat aku bisa bersamanya lagi di suatu tempat yang dijanjikan Tuhan. Dua minggu lagi, nyawa anakku diprediksi akan pergi dari tubuhnya. Aku Pasrah saja, nasibnya ada di tangan Kristus.
    "Ibuuuuuu, Ayaaaaaaahhhh, Rukmi merasa sakit! sakit sekali! Tuhan Yesuuuusss..... !"
       Aku tak tega. Tanti mengelus dan mengipasinya sambil menangis. Air matanya jatuh di dahi Rukmi. Perawat terus datang untuk menyuntikkan Peptisol. Setelah disuntikkan, beberapa menit kemudian redalah teriakan Rukmi. Kini ia tenang, kembali tidur. Keringatnya telah membasahi bantalnya. Bantal itu diganti dengan bantal yang baru.
   Tuhan, Kau jawab doaku kah?  Kau tahu rasanya menjadi aku? Ah, tak perlu kau merasakan apa yang aku rasakan. Kaulah Maha Kuasa, Maha Mengerti, Maha Mengasihi, Maha Menyayangi, Maha Pengampun, dan namaMu adalah Besar. Tuhan? Ialah anakku. Cepat sekali Kau akan panggil dia?
                                                                        ***
Hari ini tanggal Dua Puluh Empat. Besok adalah Hari Natal, Ya, esok adalah hari Natal. Semua keluarga bersuka cita sambil temu keluarga. Kini aku dan Tanti disamping tempat tidur anakku. Anakku, Rukmi masih sering muntah-muntah, bahkan semakin sering muntah-muntah. Aku semakin tak tahu apa yang harus kuperbuat sekarang. Doa, Uang, semuanya, demi anakku aku sudah sekuat tenaga mengusahakannya. Masih kurangkah usahaku? Memang, usahaku tidak sesempurna usaha Kristus dalam menapaki jalan salibNya. Yah, kalau memang usahaku masih kurang, Tuhan, ambillah nyawa anakku kalau memang aku bekum siap untuk merawat titipan ilahi dariMu.
            Pukul 00.00, aku terbangun dari tidur disamping tempat tidur anakku. Aku melihat wajah Rukmi begitu berseri-seri. Rukmi tampak mengenakan baju putih berkilauan dengan mata yang bersinar. Rukmi tersenyum kepadaku dan sekejap aku sedikit gentar. Aku bergegas berdiri dan ingin kuraih tangan Rukmi. Rukmi tersenyum kepadaku sambil mengulurkan tangannya. Kupegang tangannya. Ekstase? tanpa bicara...apa maksudnya? Tuhan?
                                                                      ***
Hari Natal telah tiba. Aku melihat Rukmi masih tertidur setelah semalam sempat memanggilku melalui ekstase yang terjadi. Kupegang kepala Rukmi. Setengah jam kemudian, ia membuka matanya dan tersenyum kepadaku. Tanti segera berdiri dan menghampiri Rukmi. Tanti di samping kanannya, aku disamping kirinya. Rukmi nampak sehat. Tangan Rukmi menginginkan rambut Tanti untuk dibelai.
       Kejadian ini?
    .....................................................................
"Ayah dan Ibu, Selamat Hari Natal ya! aku sayang ayah dan Ibu!




Jakartakota, 19 Desember 2010
Permenungan dan Doa.
Perjuangan dan Pengharapan.
Silahkan menikmati cerita pendek ini.
Kritik dan Saran sangat dibutuhkan.