Sudah tiga bulan ia terbaring di rumah sakit. Tiga bulan lagi dokter memprediksi bahwa ia akan mati. Ia adalah anakku. Anakku, Maria Magdalena Rukmi. Umurnya sembilan tahun. Ia sakit pendarahan liver sejak tiga bulan yang lalu dan kubawa ke rumah sakit dengan masih menanggung hutang untuk rumah sakit. Tak mengapa, saat hari natal tiba, aku pasrah saja. Nasibnya ada di tangan Kristus.Tiga bulan lagi adalah hari Natal.
***
Setiap ia terbangun dari tidur, ia selalu mengigau tentang sekolahnya yang ditinggalkan sejak ia masuk rumah sakit. Terkadang ia bertanya kepadaku, "Ayah, aku ingin sekolah! apakah aku masih bisa sekolah? Aku ingin bermain dengan Cindy dan Putri!". Pertanyaan itu selalu diulangi dari waktu ke waktu. Dengan jawaban yang sama tanpa mengklarifikasi kebenaran jawaban, aku menjawab, "Ya, pasti anakku, pasti! Nanti kalau sudah sembuh, kamu pasti bisa masuk sekolah dan bermain lagi!". Setiap jam di samping tempat tidur anakku, aku menjaganya bersama istriku, Tanti. Tanti terus menerus melanjutkan Novena. Setiap pagi di gereja, ia selalu menengadah kepada Bunda Maria dan melanjutkan novena. Walaupun dokter mengatakan bahwa nyawa Rukmi akan berakhir beberapa hari sebelum hari natal, Tanti tetap berdoa. Tak mengapa, saat hari natal tiba, aku pasrah saja. Nasibnya ada di tangan Kristus. Lima bulan lagi adalah hari Natal.
Perusahaan tempatku bekerja sedang mengalami ujian berat. Target keuntungan perusahaan gagal. Perusahaan sedang menanggung utang yang besar. Untuk meringankan beban perusahaan, perusahaan memecat beberapa karyawan. Aku adalah salah satunya. Aku hanya dibekali uang pesangon yang sangat tidak manusiawi. Melalui penuturan ini, aku tak akan menyebutkan nominalnya. Aku dipecat saat Rukmi dirawat selama sebulan. Sulit? Kata sulit memang yang sedang kualami. Sebulan telah lewat dan biaya perawatan rukmi beserta biaya operasi, infus, hemodialisa, dan obat-obatannya akan mendaftarkan diri untuk ditagihkan kepadaku. Aku hanya bisa memegang gambar wajah Yesus dan merenungi nasib sambil berdoa. Tak mengapa, saat hari natal tiba, aku pasrah saja. Nasibnya ada di tangan Kristus. Empat bulan lagi adalah hari Natal.
Meski dokter telah mengatakan bahwa nyawa Rukmi tinggal empat bulan lagi, aku dan Tanti tidak tinggal diam. Untuk menebus utang-utang Rumah Sakit, aku mendaftarkan diri sebagai kasir di restoran waralaba di kawasan nongkrong anak muda, daerah Jakarta Selatan. Tanti membuka usaha membuat sarung untuk dipakaikan pada buku lagu gereja, Puji Syukur. Selain itu, Tanti juga menjual kriya karyanya seperti sulaman taplak meja, merajut rosario, dan menjadi suplier barang-barang rohani. Tanti memang aktif di gereja, tetapi aku tidak. Ah, yang penting aku tetap mencintai Yesus. Aku bekerja dari pagi sampai sore dengan bayaran yang menurut aku cukup untuk menutupi utang-utang rumah sakit. Aku juga mendapat pinjaman dari adikku untuk biaya perawatan Rukmi. Dari hasil yang aku kumpulkan bersama Rukmi dan adikku, Hernowo, pasti cukup untuk merawat Rukmi. Asal rukmi tetap stabil pada kondisinya, pasti biayanya tidak lagi bertambah. Tetapi, dokter telah mengatakan bahwa nyawanya akan berakhir sebelum hari Natal. Tak Mengapa, ketika hari natal tiba, aku pasrah saja. Nasibnya ada di tangan Kristus. Ya! memang tiga bulan lagi ia akan meninggalkan dunia! uang yang aku kumpulkan saja baru hasil selama dua minggu terakhir di bulan ini.
"Ayah, apakah Rukmi bisa bersekolah sekarang?" Rukmi tiba-tiba terbangun dari tidur sorenya. Aku kaget dan melihat dia nampak segar ketika bangun tidur. "Belum nak, sekarang saja masih sore."
"Kalau besok pagi, bagaimana yah?"
"Besok Pagi? Nak, kamu belum sembuh total, biarkan saja kamu sembuh terlebih dahulu! sambil menunggu sembuh, kamu makan yah!" kusuapi dia dengan makanan rumah sakit yang telah terjamin nutrisinya.
"Tetapi, Rukmi sudah janji dengan bu Prudentia kalau Rukmi akan bernyanyi di natalan sekolah. Rukmi harus latihan bersama teman-teman."
"Nak, kalau kamu belum sembuh, jangan paksakan dirimu dulu. yaudah, kalau begitu sekarang kita berdoa yuk, dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus, amin, Tuhan....."
Setiap hari ia tidak pernah kuberitahu bahwa ia akan meninggal. Tetapi dokter sangat sulit untuk diajak bertemu. Dia pergi ke Surabaya untuk menangguhkan tesisnya dan dia akan menjadi Dr.dr. Doktor, Dokter... nyawa anakku sudah kugantungkan melalui tangan dokter sebagai perantara Tuhan. Aku hanya meyakini, yang menyembuhkan ataupun yang menentukan adalah Tuhan, dokter hanyalah medium. Tak mengapa? Aku semakin takut! Dua bulan lagi nyawa anakku ini diprediksi akan berhenti bernaung di tubuhnya. Penghasilan sementaraku setiap pagi hingga sore seolah-olah tak berarti bagi anakku, begitu juga Tanti. Tetapi, Nasibnya ada di tangan Kristus. Aku pasrah saja. Dokter? siapakah kamu?
***
Hari ini masuk minggu pertama adven. Dokter telah kembali dari penangguhan tesisnya. Ia meraba-raba anakku dan memeriksanya. Beberapa menit ia mengatakan kepada aku dan Tanti, "maaf Pak dan Bu, kami sudah mengusahakan yang terbaik, tetapi nyawa Rukmi memang tinggal tiga minggu lagi. Semoga Bapak dan Ibu tetap tabah menerima ini semua, nah untuk masalah pembayaran, silahkan Bapak dan Ibu mengurus di bagian ........."
"Ya...ya..., saya paham, pasti akan saya bayar Dok."
"Oke, pasrahkanlah kepada Tuhan. Selamat Malam"
Kuakui pembicaraanku dengan dokter tidak membuat hati tenteram. Ia ternyata tetap bersikukuh dengan diagnosanya mengenai umur Rukmi. Belum lagi, ia menyuratkan pembayaran rumah sakit. Aduh, sabar ya! aku dan Tanti tidak serta merta memiliki uang yang banyak dalam waktu singkat.
Kulihat anakku berkeringat di dahi. Batuk-batuk mulai santer terdengar. Tanti menangis di pundakku. Aku, hanya memandangi anakku. "Bu, ayo kita misa adven dulu, kita berdoa lagi ya!". Aku pasrahkan anakku untuk dijaga oleh adikku yang berbeda keyakinan denganku. Aku berdoa lagi dan memasang harapan pada Bunda Maria di gereja. Aku dan Tanti melanjutkan novena. Uang harus ada untuk perawatan anakku. Namun, nyawa anakku kupasrahkan kepada Kristus. Sebentar lagi, hari Natal akan tiba.
Hari-hari kujalani seperti biasanya dengan kerja di restoran. Tanti tetap menjual di kios gereja. Tanti sedikit terhibur dengan banyaknya orang yang membeli sulaman kainnya dan replika pohon Natal. Dengan banyaknya pembeli, maka makin besar pula honornya. Belum lagi, Tanti mendapatkan uang hasil dari penggalangan dana gereja untuk membantu pengobatan Rukmi.
Batuk-batuk dan keringat dingin mulai sering berlomba-lomba mengumandangkan diri dari tubuh anakku. Muntah Darah dan nafas yang tersengal-sengal sering diderita anakku. Aku mulai tak tega melihatnya. Sepertinya, diagnosa dokter benar. Yesus? Bunda Maria? Pengharapan? Sudah Pasrahkan saja, memang kalau benar demikian yang terjadi, aku sudah rela dengan keadaan yang demikian. Aku hanya bisa mengharap, suatu saat aku bisa bersamanya lagi di suatu tempat yang dijanjikan Tuhan. Dua minggu lagi, nyawa anakku diprediksi akan pergi dari tubuhnya. Aku Pasrah saja, nasibnya ada di tangan Kristus.
"Ibuuuuuu, Ayaaaaaaahhhh, Rukmi merasa sakit! sakit sekali! Tuhan Yesuuuusss..... !"
Aku tak tega. Tanti mengelus dan mengipasinya sambil menangis. Air matanya jatuh di dahi Rukmi. Perawat terus datang untuk menyuntikkan Peptisol. Setelah disuntikkan, beberapa menit kemudian redalah teriakan Rukmi. Kini ia tenang, kembali tidur. Keringatnya telah membasahi bantalnya. Bantal itu diganti dengan bantal yang baru.
Tuhan, Kau jawab doaku kah? Kau tahu rasanya menjadi aku? Ah, tak perlu kau merasakan apa yang aku rasakan. Kaulah Maha Kuasa, Maha Mengerti, Maha Mengasihi, Maha Menyayangi, Maha Pengampun, dan namaMu adalah Besar. Tuhan? Ialah anakku. Cepat sekali Kau akan panggil dia?
***
Hari ini tanggal Dua Puluh Empat. Besok adalah Hari Natal, Ya, esok adalah hari Natal. Semua keluarga bersuka cita sambil temu keluarga. Kini aku dan Tanti disamping tempat tidur anakku. Anakku, Rukmi masih sering muntah-muntah, bahkan semakin sering muntah-muntah. Aku semakin tak tahu apa yang harus kuperbuat sekarang. Doa, Uang, semuanya, demi anakku aku sudah sekuat tenaga mengusahakannya. Masih kurangkah usahaku? Memang, usahaku tidak sesempurna usaha Kristus dalam menapaki jalan salibNya. Yah, kalau memang usahaku masih kurang, Tuhan, ambillah nyawa anakku kalau memang aku bekum siap untuk merawat titipan ilahi dariMu.
Pukul 00.00, aku terbangun dari tidur disamping tempat tidur anakku. Aku melihat wajah Rukmi begitu berseri-seri. Rukmi tampak mengenakan baju putih berkilauan dengan mata yang bersinar. Rukmi tersenyum kepadaku dan sekejap aku sedikit gentar. Aku bergegas berdiri dan ingin kuraih tangan Rukmi. Rukmi tersenyum kepadaku sambil mengulurkan tangannya. Kupegang tangannya. Ekstase? tanpa bicara...apa maksudnya? Tuhan?
***
Hari Natal telah tiba. Aku melihat Rukmi masih tertidur setelah semalam sempat memanggilku melalui ekstase yang terjadi. Kupegang kepala Rukmi. Setengah jam kemudian, ia membuka matanya dan tersenyum kepadaku. Tanti segera berdiri dan menghampiri Rukmi. Tanti di samping kanannya, aku disamping kirinya. Rukmi nampak sehat. Tangan Rukmi menginginkan rambut Tanti untuk dibelai.
Kejadian ini?
.....................................................................
"Ayah dan Ibu, Selamat Hari Natal ya! aku sayang ayah dan Ibu!
Jakartakota, 19 Desember 2010
Permenungan dan Doa.
Perjuangan dan Pengharapan.
Silahkan menikmati cerita pendek ini.
Kritik dan Saran sangat dibutuhkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan beri komentar